Blockchain dan Crypto Indonesia

Manfaat Blockchain Untuk Supply Chain

Salah satu penerapan dari teknologi blockchain di Indonesia adalah di industri supply chain dan logistik.

 

Sebelum kita membicarakan penerapan blockchain di supply chain, kita lihat dulu karakter blockchain :

Blockchain adalah tipe database baru yang hanya bisa ditambahkan, tidak bisa diedit, artinya, tipe database seperti ini sangat bermanfaat dipakai dalam suatu proses atau industri yang memiliki banyak pihak yang terlibat namun tetap harus saling berkolaborasi untuk suatu tujuan penyelesaian pekerjaan.

Supply chain dan logistik adalah sebuah industri yang memiliki sangat banyak intermediary atau pihak-pihak berbeda yang terlibat dalam daur hidup suatu produk, dari produsen sampai konsumen akhir, biasanya melibatkan banyak pihak dalam hal produksi, pengantaran, atau pengecekan, belum lagi lokasi penyerahan /handover barang atau barang dalam proses yang berbeda-beda.

 

Manfaat Blockchain Bagi Semua Pihak yang Terlibat Dalam Supply Chain

Berikut ini adalah beberapa manfaat yang bisa dirasakan dari penerapan blockchain di supply chain

 

 

Blockchain Meningkatkan Visibility & Traceability di Supply Chain 

Definisi visibility dalam supply chain menurut PBB adalah :

“The ability to identify and trace the history, distribution, location and application of products, parts and materials, to ensure the reliability of sustainability claims, in the areas of human rights, labour (including health and safety), the environment and anti corruption”
(United Nations Global Compact 2016)

 

Dengan banyaknya intermediary atau pihak-pihak dalam path produk, yang berakibat pada kurangnya transparansi di supply chain, akan muncul pertanyaan sebagai berikut :

 

Dalam survey yang diadakan oleh Supply Chain Digest, yang menyebarkan survey kepada 200 orang praktisi dan executive supply chain, terungkap bahwa “supply chain visibility” adalah aspek digitalisasi yang menjadi proritas bagi para praktisi supply chain.

Dalam kaitannya dengan manfaat blockchain di supply chain, traceability sering disebut bersamaan dengan visibility, karena dengan meningkatnya visibility, berarti kemampuan tracing juga meningkat.

Traceability juga bisa berarti “kemampuan investigasi” , dengan banyaknya pihak yang terlibat di supply chain, mengakibatkan sulit menginvestigasi jika ada praktek illegal atau tidak etis.

Traceability memungkinkan seluruh bisnis, stakeholder, pihak berwenang, government dan customer untuk me-manage dan merespon risiko yang ada secara responsive dan terdokumentasi. Sayangnya, karena kurangnya kemampuan traceability dan transparansi, customer tidak memiliki cara efisien untuk memvalidasi sumber dari barang atau produk yang mereka beli.

Key trend yang mendorong kapasitas traceability (Gartner)

 

 

Manfaat IOT (Internet of Things) yang dipadu dengan Blockchain Untuk Supply Chain

Kemajuan teknologi memudahkan kita memindahkan kargo dari lokasi satu ke lokasi lainnya di dunia, tetapi supply chain global saat ini menghadapi masalah dalam hal tracing event, investigasi insiden, memastikan integrasi kargo, penyelesaian sengketa (dispute resolution), compliance dan membangun kepercayaan di antara semua pihak yang terlibat.

Karakter akuntabilitas data blockchain bisa memecahkan masalah tersebut.

 

Blockchain Untuk Memonitor produk perishable

Produk perishable (expired date tidak lama) biasanya sensitive terhadap temperature dan kelembaban. Blockchain bisa berperan dalam memonitor kualitas dan keamaan dari makanan terutama yang bersifat perishable.  

Setiap perpindahan tangan atau checkpoint, data temperature, kelembaban, dan lokasi dimasukkan ke dalam blockchain (= trusted data) menggunakan sensor Internet Of Things. 

Dalam pemantauan realtime, jika suhu berubah mendadak, akan mentrigger alert di smart contract.

Fungsi blockchain + IOT dalam near real-time monitoring untuk perishable goods  – terkait juga dengan tracing events, investigasi insiden, memastikan integritas kargo, penyelesaian sengketa (dispute resolution), complience dan enable trust di antara semua pihak yang terlibat dalam supply chain

 

Blockchain Untuk Melawan Barang Palsu / Counterfeit product – Track, Trace, Authenticate product

Dalam kaitannya dengan fungsi teknologi blockchain, kita perlu membaginya menjadi 2 : Produk palsu (general) dan produk palsu medis.

 

Produk palsu (general)

Produk palsu yang beredar luas di pasar Indonesia untuk tinta printer mencapai 49,4 persen, pakaian palsu 38,90 persen dan disusul barang dari kulit dengan prosentase 37,20 persen. Sedangkan produk palsu software sebesar 33,50 persen, sisanya produk kosmetika palsu 12,60 persen, makanan dan minuman abal-abal 8,50 persen dan produk farmasi palsu 3,80 persen.

Di tahun 2016, OECD.org, Organization for Economic Co-operation and Development melaporkan import barang palsu global senilai $461 billion. Sekitar 2,5% dari import global.

Contoh barang palsu :

 

Salah satu alasan dari banyaknya barang palsu adalah karena barang palsu sulit dibedakan dari yang asli, bahkan retailer resmi, baik offline dan online juga kadang mendapatkan barang palsu.

Berikut ini adalah data kerugian negara akibat barang palsu.

Barang palsu sulit dibedakan dari yang asli karena tidak ada produsen/manufaktur atau retailer yang memiliki end-to-end control dari alur supply chain. Kebanyakan platfom ecommerce atau offline retailers juga tutup mata terhadap situasi tsb.

Blockchain bisa memecahkan masalah end-to-end control dari alur supply chain

Untuk memecahkan masalah barang palsu, supplier dan manufaktur bergabung ke satu blockchain platform dan menggunakan smart tags (cryptographic identifier yang unik) untuk men-track dan meng-konfirmasi provenance / origin dan lokasi tiap item. Tags bisa memiliki berbagai macam bentuk, termasuk label seperti QR Code, RFID dan tag digital yang memiliki komponen software.

Smart tag atau penanda lainnya bisa diaplikasikan ke dalam single item atau batch. Untuk memastikan keaslian, hanya tag asli dan produk yang terverifikasi yang bisa dimasukkan ke blockchain. Memasukkan tag di awal produksi memungkinkan setiap item atau batch untuk di track di setiap tahap produksi / manufaktur, shipping, distribusi dan sales. Data yang relevan di log di setiap tahap.

 

Blockchain Untuk Melawan Pemalsuan Obat 

Estimasi dari World Health Organization (WHO) , 10% dari obat di seluruh dunia adalah obat palsu, dan bisa mencapai 30% di beberapa negara Asia, Afrika

Pemalsuan obat adalah masalah yang memiliki dampak terhadap kehidupan manusia, juga reputasi dan ROI dari industri farmasi

Drug Supply Chain Security Act (DSCSA) di USA dan Global Traceability Standard for Healthcare (GTSH) dibuat untuk melindungi konsumen dari obat palsu.

DSCSA mengharuskan :

  1. Distributor farmasi harus bisa melakukan verifikasi otentifikasi produk di 2019
  2. Pharmacy dispenser ( = apoteker) harus bisa melakukan tracing obat di 2023

 

Sumber gambar : blockchain untuk supply chain obat / pharmaceutical traceability

 

Exit mobile version