Perusahaan Blockchain Jenis Baru Lahir di Indonesia Karena Revolusi Sistem Pencatatan

platform blockchain di indonesia

Teknologi blockchain yang melakukan penyimpanan data sebenarnya adalah teknologi sistem pencatatan.

“Sistem pencatatan” bukanlah hal yang remeh, dan bukan cuma memiliki dampak yang kecil-kecilan.

Setidaknya sejarah mencatat ada 2 kejadian di mana “sistem pencatatan” bisa merubah sejarah dunia

Mesin Cetak oleh Johannes Gutenberg

Ditemukannya Mesin Cetak oleh Johannes Gutenberg di tahun 1456 memutar balikkan kebudayaan Barat dan Eropa, karena memberikan akses pada orang banyak kepada dunia buku cetak yang sebelumnya tidak bisa, karena mahalnya biaya cetak (dan sulit didapat) di media sebelumnya yaitu tulisan tangan yang dicetak di kayu. Dengan adanya mesin cetak, di era itu semua orang mulai bisa mendiskusikan ide-ide, menyebarkan literasi dan menjadi jauh lebih pintar dari sebelumnya, juga menyebarkan ide mereka sendiri kepada komunitasnya.

Masa tersebut adalah awal mula dari era renaissance dan era revolusi sains, era di mana para pemikir mulai bisa mendistribusikan idenya kepada banyak orang. Mesin cetak gutenberg telah mengubah cara manusia berinteraksi selamanya. Penemuan mesin cetak juga memungkinkan perubahan politik dan kultural di dunia, di mana banyak negara yang saat itu belum merdeka, menjadi merdeka dengan menggunakan media printing, misalnya Thomas Paine yang menjual pamflet “Common Sense” yang dalam setahun bisa mendorong kemerdekaan Amerika.

 

Double entry accounting oleh Lucca Paccioli

Double entry accounting muncul sejak tahun 1494, lewat buku Summa de Aritmatica, Pacioli menulis 27 halaman yang dianggap banyak orang sebagai “most influential work in the history of capitalism”, yaitu deskripsi tentang double entry bookkeping yang dijabarkan dengan detail dan dengan banyak contoh..

sejarah blockchain

 

 

Sebelum adanya double entry accounting, sistem pencatatan akuntansi yang disebut “single entry accounting” sangat sederhana dan tidak bisa mencatat transaksi yang rumit, termasuk tidak bisa membuat perusahaan.

Dengan adanya double entry accounting, kini perusahaan sudah bisa dibuat dan era kapitalisme telah lahir.

 

Revolusi industri 4.0 : Platform Approach

Blockchain, sama seperti buku besar Paccioli, tetapi tidak membutuhkan trust, karena menggantikan trust dengan algoritma.

Di kisaran tahun 2008 s/d 2018 kita telah melihat perusahaan internet yang mendisrupsi bisnis yang sudah ada. Startup yang bisa mendisrupsi existing business model biasanya meleverage teknologi baru dan bereksperimen dengan pendekatan-pendekatan baru termasuk menjadi lebih data-driven.

Berikut ini adalah gambaran perusahaan non platform : (Sumber : Platformed, Sanjeet P Choudary)

perusahaan blockchain negara Indonesia

Sedangkan ini adalah gambaran bisnis model dari platform di mana pemilik platform menjadi penengah :

 

blockchain company in Indonesia

 

Startup seperti ini yang biasanya mengalami pertumbuhan eksponensial biasanya memiliki karakteristik “platform approach”,  Organisasi yang berupa platform biasanya memiliki karakter para pemilik platform dan vendor mendapatkan benefit dari skala ekonomi yang besar namun tetap independen, dengan cara “memplatformkan” produknya, dalam bahasa lain “mengcrowdsourcingkan” produknya.

perusahaan platform blockchain

Mungkin Anda sudah bosan mendengarnya,

Uber, perusahaan taksi terbesar di dunia, tidak memiliki taksi sendiri,

Airbnb, perusahaan penginapan terbesar di dunia, tidak memiliki hotel,

Facebook, perusahaan media terbesar di dunia, tidak membuat konten sama sekali.

Dengan memplatformkan produknya, hasilnya adalah bisnis model yang memiliki skalabilitas tinggi, yang berarti untuk mendapatkan hasil 10x lipat, effort yang dikeluarkan tidak sampai 10x lipat, perusahaan platform ini juga memiliki data yang lebih banyak terkait produknya, dan bisa dianalisa untuk menghasilkan keputusan yang lebih baik lagi di masa depan, atau memberikan rekomendasi yang terbaik dan personalize untuk customernya atau merchant / penyedia jasanya nya.

perusahaan blockchain indonesia

 

Dengan blockchain kita bisa melihat perusahaan bukan hanya memplatformkan productnya, tetapi juga memplatformkan kepemilikan perusahaannya.

 

Platform Approach + Blockchain = Decentralized Company

 

Dengan memplatformkan ownership ini, kepemilikan perusahaan atau “capitalization table” yang semula (sebelum blockchain) biasanya disimpan dalam format excel atau spreadsheet yang jarang-jarang diubah, kini dengan teknologi blockchain menjadi memiliki skalabilitas selevel dengan internet (skala dunia), yang berarti bisa melakukan fundraising yang bersifat borderless, ditambah lagi dengan karakter transparan dari blockchain.

“Capitalization table” atau kepemilikan perusahaan kadangkala disebut sebagai struktur data yang paling penting di dunia IT, karena mencerminkan “kepemilikan”, yang merupakan sesuatu yang sangat berharga. Dengan blockchain kini kepemilikan ini mengalami revolusi : transparan, borderless, bisa bersifat data driven.

 

platform blockchain di indonesia

Ada begitu besar perbedaan fundamental dari perusahaan centralized dengan decentralized :

 

Nampaknya, decentralized company adalah revolusi selanjutnya dari platform..

Perusahaan yang bersifat decentralized akan memiliki protocol, atau coding yang bersifat open source – yang biasanya akan memiliki banyak pendukung meskipun tidak dibayar, tetapi di era blockchain ini, para pendukung open source bisa mendapatkan token yang  diterbitkan oleh protocol, yang berarti bisa menjadi insentif finansial untuk pendukungnya, effort dari pada pendukung ini bukan hanya “volunteering” saja tetapi memiliki reward atau insentif finansial jika protocol ini berkembang.

Beberapa expert digital menyebut jenis perusahaan ini (yang nampaknya hampir semuanya bewujud foundation) sebagai “ownerless company”, tidak tahu juga apakah istilah ini tepat atau tidak.

Kalau di Indonesia, perusahaan yang seperti ini baru satu, yaitu Vexanium blockchain protocol, yang bersifat desentralisasi dan memiliki banyak block producer untuk pengambilan keputusan. (Baca juga : Siapa Pemilik Blockchain Vexanium Sebenarnya).

Implementasi dari decentralized governance juga bermacam-macam, ada yang melakukannya dengan on chain governance, ada juga yang off chain governance, hal ini akan kita bahas di lain waktu.

 

Informasi lainnya tentang blockchain

Apa Itu Vexanium Resource Exchange (REX)

 

Update Berita Blockchain 2020 : Yang Menarik Dari Roadmap Blockchain China, India, Australia

 

Related articles

apa itu desentralisasi

Apa itu Desentralisasi Dalam Hal Teknologi Blockchain?

Desentralisasi adalah proses mendistribusikan atau menyebarkan power yang semua terpusat menjadi tersebar. Teknologi yang mendasarinya adalah Blockchain yang memungkinkan dilakukannya desentralisasi dan memberikan kesempatan bagi semua user untuk menjadi bagian dari validator atau nodes untuk memproses transaksi. Tentu Anda telah mendengar mengenai desentralisasi, blockchain dan bitcoin, ethereum dan banyak cryptocurrency lainnya. Menempatkan beberapa ide-ide ini […]

Fakta : Blockchain Adalah Teknologi Akhir Jaman

  Ya, betul. Ini adalah fakta berdasarkan ucapan John Connor di film Terminator 3 : Rise of The Machine. Film Terminator adalah film yang mengisahkan perjuangan manusia melawan mesin alias Artificial Intelligence. Disuatu titik di film ini dikisahkan bahwa manusia gagal menghancurkan AI karena Skynet tidak memiliki system core sehingga tidak bisa di shut down. […]

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *